Sejarah singkat masuknya Thoriqoh Annaqsyabandiyyah Alkholidiyyah Pusat Sokaraja di Wilayah Kecamatan Karangreja – Kecamatan Karangjambu, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Ditulis oleh: K.H. Faizin, S.Sos., S.Pd.I., M.Pd.

 

Thoriqoh Naqsyabandi Kholidiyah diwilayah Kecamatan Karangreja ujung utara Kabupaten Purbalingga dan berbatasan dengan Belik Kabupaten Pemalang dan  Kecamatan Karangjambu yang notabenenya pedesaan dan pegunungan tertinggi yang berbatasan merupakan basis Jamiyah Thoriqoh Naqsyabandi Kholidiyah Pusat Sokaraja.

 

Perkembangan Thoriqoh Naqsyandi Kholidiyah diwilayah Karangreja dan karangjambu daerah yang terkenal abangan dan kaum santri yang bisa menerima amalan Thoriqoh Naqsybandi dari kalangan santri dan para Kiyai yang sudah mengenal dan memahami ajaran Agama Islam. Adapun yang terkenal abangan adalah kebanyakan para priyayi dan penganut agama Islam yang tidak termasuk nyantri, dari segi perekonomian sangat mines karena daerah tadah hujan dan para petani, pedadang dan wiraswasta merupakan pancapencaharian sehari-hari.

 

Tokoh agama yang sangat langka tergolongan kurang perhatian terhadap pendidikan Islam sehingga para tokoh-tokoh yang menggiatkan kegiatan agama Islam di wilayah yang terkenal santri adalah Desa Gondang, Desa Purbasari,  Desa Karangjambu serta Desa Sanguwatang, Desa Jingkang dan Desa Danasari daerah nyanti dan berpendidikan umum.

 

Adapun tokoh Agama Desa Gondang yang getol adalah mbah Kiyai Suhadi, Desa Purbasari mbah Akhmad Sarbini dan mbah Kiyai Muhamad Ridwan dan Desa Karang Jambu mbah Kiyai Lukman Hakim yang sangat terkenal ilmu hikmahnya, dan Desa yang lain ikut serta dalam melaksanakan amaliyah Syariat dan Amaliyah Thoriqoh.

 

Masuknya Thoriqoh Naqsyabandi kholidiyah di wilayah Kecamatan Karangreja dan Kecamatan Karangjambu para sesepuh sudah mengenal cerita Mbah Kiyai Afandi berarti pada jaman mbah Kiyai Rivai Avandi sudah berjalan dan dikenal oleh mayarakat sekitar tahun 1950 pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Kepengurusan Jamiyyah Thoriqoh Naqsyabandi Kholidiyyah Pusat Sokaraja terbentuk pada jaman almaghfurlah Mbah K.H.R Abdussalam. Yang menjadi pengurus atau Kiyai yang dijadikan tokoh dan ilmu thoriqoh Naqsyabandi Kholidiyyah Pusat Sokaraja adalah yang mendapat ijin dan Restu Romo Guru (Almaghfurlah K.H.R. Abdussalam ).

 

Kepengurusan Thoriqoh Naqsyabandi Kholidiyah Pusat Sokaraja Wilayah Kecamatan karangreja dan Kecamatan Karangjambu, sebagai berikut:

No Nama Periode Keterangan
1 K.H. Muhammad Ridwan Tahun 1969 – Tahun 1996 Wafat Th 1996
2 K.H. Muhammad Lukman Hakim Tahun 1997 – Tahun 2008 Wafat Th 2008
3 K.H. Masruri Tahun 2008 – Tahun 2011 Wafat Th 2011
4 K.H. Faizin, S.Sos., S.Pd.I., M.Pd. Tahun 2011 – sampai sekarang

 

  1. Pondok Pesulukan

Amaliyah thoriqoh Naqsyabandi Kholidiyah yang termasuk rukun adalah melaksanakan suluk maka almaghfurlah Romo Guru K.H.R. Abdussalam sangat-sangat memperhatikan para ikhwan yang sangat jauh dari keramaian kota dan jalan yang berliku-liku di pelosok pedesaan dan memperhatikan dari segi sosial ekonomi  maka pada tahun 2000 memberikan ijin untuk para ikhwan di lingkungan Wilayah Kecamatan Karangreja dan Kecamatan Karangjambu untuk melaksanakan suluk di  Pondok Pesulukan yang lokasinya di Kopak Munggangsari Masjid Attaqwa Desa Purbasari Kecamatan Karangjambu diijinkan untuk suluk 10 hari setiap bulan Muharram (Asyura) dan bulan Rajab.

 

  1. Pengajian Rutin lingkungan.

Tugas ikhwan selain Melaksanakan Wirid Dzikir Ismu dzat, Tawajuh, Khataman, dan Suluk para ikhwan supaya memperbanyak mencari dan belajar ilmu maka diadakan pengajian rutin tingkat lingkungan yang di laksanakan setiap Hari Ahad Pon. Dan sekaligus mengadakan Istikharah untuk beat ikhwan baru dan mengundang Romo Guru atau wakil dari Pusat sokaraja.

 

Pada jaman mbah Kiyai Muhammad Ridwan pengajian rutin Ahad Pon bersifat menetap di Purbasari, dilanjutkan oleh K.H. Muhammad Lukman pengajian Ahad Pon bersifat bergilir ke Masjid-Masjid  atas dasar musyawarah dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat yaitu Kiyai Imam Baehaqi dan Kiyai Akhmad Zaenudin dan menambah Rowang putri Ny. Hj. Sumirah Nur Abidah untuk memberikan pencerahan dan pemahaman ilmu thoriqoh bagi para ikhwan putri dan perkembangan setiap pengajian sangat antusias bahkan almaghfurlah Romo Guru K.H.R. Abdussalam sangat senang jika ada pengajian rutin Ahad Pon dan Beat selalu mendahulukan undangan ke Wilayah Kecamatan Karangreja dan Kecamatan Karangjambu.

 

Bahkan sering pengajian rutin di wilayah Kecamatan Karangjambu selalu ada undangan di tepat lain dan Romo Guru K.H.R. Abbdussalam berangkat lebih awal dari Sokaraja dan tempat untuk transit sarapan pagi di tempat Ny. Hj. Sumirah Nur Abidah / H. Faizin Purbasari terus menuju lokasi pengajian. Setiap mengisi pengajian Romo Guru K.H.R. Abdussalam sangat antausias karena jamaahnya banyak dan tenang mendengarkan ceramahnya.

 

Cerita yang di kenang saat pertama masuk wilayah Kecamatan Karangreja – Kecamatan karangjambu tahun 1969 atas saran Kiyai Muhammad Ridwan Purbasari pada jaman Cengkeh supaya Romo Guru K.H.R. Abdussalam membeli cengkeh dari Purbasari insya Alloh harga cengkeh akan naik dan bisa untuk haji. Atas saran tersebut Romo Guru K.H.R. Abdussalam selalu membeli cengkeh sebanyak-banyaknya dan benar menjadi kenyataan bisa haji dari jual cengkeh bahkan sampai tahun 1990 cengkeh masih digudang masih banyak.

 

Kenangan yang diceritakan Romo Guru K.H.R. Abdussalam dengan H.Faizin sebagai ikhwan yang masih remaja pada saat itu beat umur 18 tahun masih sekolah di PGAN Purwokerto mengikuti Romo Guru merupakan pengalaman yang sangat berharga ilmu dan pengalaman lainnya semoga berharap para ikhwan dengan berkahnya guru kita bisa menuju jalan yang terang benderang ke Surganya Alloh SWT, ilahi anta maksudi waridhoka matklubi.

 

 

Open chat
Hubungi Kami
Waalaikumsalam
Ada yang bisa Kami Bantu